<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anand Krishna's Writings</title>
	<atom:link href="http://www.aumkar.org/ind/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.aumkar.org/ind</link>
	<description>"Aku hendak membagikan apa yang kudengar - itupun jika kau mengizinkan!"</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 Dec 2009 16:21:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Memikul Salib bersama Yesus</title>
		<link>http://www.aumkar.org/ind/?p=251</link>
		<comments>http://www.aumkar.org/ind/?p=251#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 16:21:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Archives]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aumkar.org/ind/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[Mudah sekali bagi kita untuk mengutip seseorang yang “punya nama” kemudian menjabarakan apa yang dikatakannya. Mudah sekali bagi kita untuk mengutip Yesus, atau Muhammad, atau Siddhartha, atau Krishna, kemudian mengomentari kata-kata mereka.
Namun, tidak demikian dengan seorang Yesus. Ketika ditanya oleh para ahli kitab apa yang menjadi “ajaran utama” – bukan ajaran-“nya” – tetapi “ajaran”, titik. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mudah sekali bagi kita untuk mengutip seseorang yang “punya nama” kemudian menjabarakan apa yang dikatakannya. Mudah sekali bagi kita untuk mengutip Yesus, atau Muhammad, atau Siddhartha, atau Krishna, kemudian mengomentari kata-kata mereka.</p>
<p>Namun, tidak demikian dengan seorang Yesus. Ketika ditanya oleh para ahli kitab apa yang menjadi “ajaran utama” – bukan ajaran-“nya” – tetapi “ajaran”, titik. Mereka ingin mendengar sesuatu yang bersifat generik, dan berlaku bagi semua.</p>
<p>Maka, tanpa keraguan, Yesus pun menjawab bila mencintai Tuhan dengan segenap hati, pikiran dan jiwa – adalah ajaran terutama. Dan, kedua adalah mencintai tetangga kita sebagaimana kita mencintai diri sendiri.<br />
<span id="more-251"></span>Pernyataan seperti ini bukanlah pernyataan biasa. pernyataan seperti ini mengandung resiko yang sangat tinggi. Pernyataan ini menuntut “komitmen penuh” tanpa embel-embel, tanpa syarat apa pun jua.</p>
<p>Menempatkan Tuhan diatas segalanya.<br />
Dan, menempatkan tetangga sejajar dengan diri, dan keluarga sendiri.</p>
<p>Mudah terucap, tetapi tidak mudah dalam laku.<br />
Maka, para ahli kitab pun tercengang. Mereka tidak terbiasa memperoleh jawaban setegas dan sejelas itu. Kebiasaan para alim ulama adalah mengutip ayat-ayat suci. Mereka tidak berani berpendapat sendiri. Mereka tidak berani mengambil resiko.</p>
<p>Tidak demikian dengan Yesus. Ia berani mengambil resiko. Ia tidak membutuhkan dukungan kitab suci atau ayat-ayat suci untuk menyampaikan kebenaran. Inilah salib Yesus. Keberaniannya itulah yang menjadi salib yang masih juga dipikulnya hingga hari ini.</p>
<p>“Apa yang tidak kau hendaki bagi dirimu, janganlah kau lakukan terhadap sesama manusia – inilah inti ajaran Torah. Sisanya sekedar penjabaran dari inti ajaran itu,” Talmud juga menyampaikan hal yang sama. Tetapi, siapa yang peduli? Siapa yang ingat? Para alim ulama dan ahli kitab sibuk mengutip ayat-ayat suci, seorang Yesus sibuk melakoni ayat-ayat itu.</p>
<p>Yesus adalah seorang pemberani, sekaligus pemberontak. Masih ingat apa yang dilakukannya di pelataran bait suci? Ia seorang diri. Para murid yang berjumlah sedikit itu untuk malah meminggir. Para penonton bingung, karena apa yang mereka saksikan saat itu adalah sesuatu yang baru.</p>
<p>Yesus, seorang diri, mengobrak-abrik gubuk para pedagang dan para penukar uang yang menempatkan diri sebagai calo Tuhan.</p>
<p>Adakah keberanian seperti itu dalam diri kita?<br />
Bila tidak, maka jadilah kita pemuja bangkai, gambar, patung, kitab dan tempat – yang semuanya kemudian tidak lebih dari berhala.</p>
<p>Bila kita tidak berani memikul salib kita masing-masing bersama Yesus, maka biarlah hati kita, nurani kita, jiwa kita menangisi kelemahan diri pada malam Natal ini. Tidak perlu merayakan Natal dengan menyalakan pelita dan lilin, karena hati yang lemah tidaklah menjadi kuat dengan cara itu.</p>
<p>Apakah arti kelahiran Yesus?<br />
Setiap detik banyak orang yang lahir, dan banyak pula yang mati. Setiap Natal kita merayakan kelahiran Yesus, sebagaimana kita merayakan hari kelahiran saudara kita pasangan kita, anak kita – lantas apa? Apa bedanya? Barangkali Natal lebih meriah, itu saja?</p>
<p>Kelahiran Yesus tidak dapat dipisahkan dari kayu salib yang kelak dipikulnya. Kehiran Yesus hanyalah menjadi bermakna bila saat menyalakan lilin untuk merayakannya, kita juga memungut kayu salib yang ada diatas altar dan memikulnya. Pajangan itu mesti turun dari dinding dan berpindah tempat ke atas pundak kita.</p>
<p>Keberanian Yesus, kegigihannya untuk menghadapi segala tantangan hidup – inilah kemuliaan dan keilahiannya. Kematiannya diatas salib dan kebangkitannya kembali mesti “terulangi” dalam hidup kita masing-masing.</p>
<p>Adakah keberanian di dalam diri kita untuk terlebih dahulu &#8211; jauh-jauh hari sebelum merayakan malam kelahiran Yesus &#8211; menguburkan jiwa kita yang lemah, hati kita yang alot, dan pikiran kita yang kacau?</p>
<p>Biarlah keangkuhan, dan keserakahan kita mati diatas kayu salib. Biarlah jiwa kita yang tersentuh oleh kesadaran kristus bangkit kembali untuk berkarya di tengah kegaduhan dan ketakwarasan dunia ini dengan tetap mempertahankan kewarasan diri. Barulah setelah itu, malam kelahiran Yesus menjadi bermakna bagi kita.</p>
<p>Yesus tidak mengurusi kerajaan dunia, Ia mengurusi kerajaan Allah. Ya, betul, tetapi milik siapa pula kerajaan, bahkan dunia ini, alam ini? Bukankah semuanya milik Allah? Bukanlah kerajaan Allah berada di dalam diri kita masing-masing?</p>
<p>“Tidak mengurusi kerajaan dunia”, mesti dimaknai sebagai “tidak mengurusi apa pun jua karena keterikatan kita dengan dunia”.</p>
<p>Urusilah keluarga, dan dunia, karena semuanya itu merupakan amanah Allah. Tugas yang diberikan kepada kita oleh Gusti Pangeran.</p>
<p>Jadikanlah malam Natal ini malam yang beda dari malam-malam lain. Isilah malam Natal ini bukan saja dengan lagu, dansa, pesta dan kebaktian, tetapi dengan pencerahan baru, dengan kesadaran baru.</p>
<p>Yesus tidak kemana-mana. Yesus ada di sini. Ia tidak pernah lahir, dan tidak pernah mati. Ia selalu ada. Kadang kita melihat-Nya dengan jelas, kadang tidak. Bukan karena Ia menghilang, tetapi mata batin kita berkabut.</p>
<p>“Bu, bu,” saya pernah bertanya kepada ibu asuh saya asal Solo, “kenapa Yesus terlihat begitu sedih?” Dan, beliau menjawab, “Karena kita sering sedih, sering gelisah, sering sakit.”</p>
<p>Maka, saat itu aku pun berjanji, “Aku tak akan sedih lagi, tak akan gelisah dan sakit lagi, supaya Yesus tertawa!”</p>
<p>Malam Natal ini adalah Malam untuk membuatnya tertawa. Make our Lord happy, walk with Him with your Cross on your shoulder!</p>
<p><em>Penulis : Anand Krishna (Aktivis Spiritual, penulis lebih dari 130 buku)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aumkar.org/ind/?feed=rss2&amp;p=251</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KAMA</title>
		<link>http://www.aumkar.org/ind/?p=220</link>
		<comments>http://www.aumkar.org/ind/?p=220#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 12:36:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Radar Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aumkar.org/ind/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Perjumpaan pertama kita dengan kata kama kemungkinan besar melalui istilah Kamasutra, karya klasik dari timur, yang lebih sering dikaitkan dengan seks. Kama, sesungguhnya, tak hanya mengacu pada seks dalam arti senggama. Kama lebih tepat didefinisikan sebagai hawa nafsu, atau hasrat.
Sutra ialah benang, atau senar. Kata ini dipakai di sini dalam konteks pemain boneka yang memegang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perjumpaan pertama kita dengan kata kama kemungkinan besar melalui istilah Kamasutra, karya klasik dari timur, yang lebih sering dikaitkan dengan seks. Kama, sesungguhnya, tak hanya mengacu pada seks dalam arti senggama. Kama lebih tepat didefinisikan sebagai hawa nafsu, atau hasrat.</p>
<p>Sutra ialah benang, atau senar. Kata ini dipakai di sini dalam konteks pemain boneka yang memegang bonekanya dengan benang atau senar. Gerakan boneka-boneka itu dikendalikan dan diarahkan. Oleh sebab itu, pemain boneka disebut Sutradhaari, seperti juga Tuhan, Sang Pemain Boneka yang Hebat. Sekarang ini pun, pengarah acara dan film disebut sutradhaar dalam bahasa Sansekerta, atau sutradara dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Kamasutra mengimplikasikan bahwa hawa nafsu atau hasrat harus dikendalikan, ditata dan diatur secara memadai. Karena nafsu adalah energi, dan hasrat ialah energi.</p>
<p><span id="more-220"></span>Ada pepatah lama dalam bahasa Sansekerta, “Pemborosan Energi ialah Pemborosan Hidup.” Dikatakan juga bahwa, ” Energi ialah Kehidupan, dan Kehidupan ialah Energi.” Sekecil apa pun, kita semua memiliki  energi itu di dalam diri kita, dengannya kita hidup dan &#8220;membuat&#8221; anak. Energi seksual inilah yang memastikan kelanjutan kehidupan.</p>
<p>Jadi hawa nafsu, hasrat dan seks semuanya saling terkait. Mereka semua ialah manifestasi energi. Inilah energi yang menciptakan. Dan, energi yang sama pula berada di balik kreatifitas kita di bidang lainnya, termasuk juga  kemampuan untuk menganalisis.</p>
<p>Apa yang terjadi jika energi ini hanya digunakan untuk aktivitas seksual, misalnya senggama, masturbasi, dll? Tak tersisa lagi energi untuk mengekspresikan kreatifitas kita pada bidang lainnya. Kita bisa jadi tetap produktif, tapi tak lagi kreatif. Kita dapat tetap berpikir, tapi tak dapat berpikir mendalam, menganalisis dan memilah-milah.</p>
<p>Pun para filsuf yang sibuk berfilsafat tentang hidup kekurangan energi untuk sungguh-sungguh hidup, menikmati dan merayakannya.</p>
<p>Saya pernah bertemu dengan beberapa politisi yang begitu larut dalam politik sehingga tak tersisa energi untuk hal lainnya. Kasus ini terjadi juga dengan para profesional di bidang lainnya.</p>
<p>Inilah sebabnya kenapa para leluhur menasehati kita untuk mengatur kama secara efektif dan efisien. Tak ada larangan untuk memakai kama untuk aktivitas seksual. Jika kau ingin menjadi Caligula, maka gunakanlah seluruh energimu untuk itu. Tak masalah. Namun, bila kau ingin menjadi kreatif di bidang lain pula, maka moderasi dalam aktivitas seksual akan bermanfaat.</p>
<p>Sama halnya, jika kau ingin menjadi kaya raya, maka silakan mengarahkan seluruh energimu untuk mencari uang. Jangan pikirkan hal lainnya.</p>
<p>Hidup menawarkan pilihan yang tak berbatas. Hidup adalah pilihan. Seorang filsuf bisa berfilsafat tentang tak memilih. Tapi itupun sebuah pilihan. Tak memilih atau memilih, dua-duanya adalah pilihan.</p>
<p>Semestinya, kita berpikir mendalam sebelum membuat pilihan. Kita harus menganalisis semua pilihan yang kita miliki, sebelum menetapkan satu pilihan di antara mereka. Ini juga alasan kenapa para siswa di sekolah dinasehati untuk tidak terlibat dalam  kegiatan seksual. Selama seorang siswa masih bersekolah, ia perlu memfokuskan  energinya pada pelajaran dan sekian banyak aktivitas lainnya. Maka, fokus pada seks tidak berguna.</p>
<p>Apa yang telah saya sampaikan diatas, adalah pedoman. Selanjutnya terserah kita. Bagaimana kita menggunakan energi kita &#8211; bagaimana kita memakai kama &#8211; sepenuhnya menjadi keputusan kita. Kita ialah tuan atas diri kita sendiri.</p>
<p>Ada sebuah fenomena, yaitu ketika kama berbunga, ketika nafsu berubah menjadi kasih. Ini ialah sebuah fenomena universal. Kita semua dapat mengalaminya. Kita semua memiliki potensi untuk mendaki tingkatan yang lebih tinggi dari nafsu dan menggapai kasih.</p>
<p>Nafsu dan kasih, keduanya ialah manifestasi kama. Ketika kau terobsesi dengan kemakmuran diri, kemakmuran keluarga, komunitasmu, lembagamu, ini mu dan itu mu &#8211; maka kamu menjadi penuh nafsu. Nafsu selalu egois dan mementingkan diri sendiri. Ia tak tahu bahasa tanpa pamrih.</p>
<p>Kasih, di sisi lain, tahu bahasa tanpa pamrih. Ia dapat berkarya untuk keuntungan semua, untuk kemakmuran semua, untuk kebaikan semua, untuk kemajuan dan pertumbuhan semua. Kasih ialah ketika kita sungguh memahami semangat di balik kata-kata, “Satu untuk Semua, Semua untuk Satu.”</p>
<p>Di antara nafsu dan kasih ialah tangga cinta. Dalam nafsu, kamu ialah kamu, dan aku ialah aku. Nafsu itu individualistik. Cinta ialah persaudaraan, persahabatan dan kebersamaan. Cinta ialah persatuan kamu dan aku. Cinta ialah perjumpaan individualitas kita yang tadinya berjarak. Cinta ialah di mana kita bertemu. Cinta ialah di mana aku untuk kamu, dan kamu untuk aku.</p>
<p>Mari kita ringkas:<br />
-Nafsu:  Kamu ialah Kamu, dan Aku adalah Aku, Nafsu selalu menuntut, mengambil, dan menerima.<br />
-Cinta: Kamu dan Aku. Ini saling memberi dan menerima.<br />
-Kasih ialah Engkau segala-galanya. Ia memberi, memberi, dan memberi.</p>
<p>Pada tingkatan nafsu, kama telah melahirkan para Alexander yang haus kekuasaan, para Mahmud dari Ghazna, para Genghis Khan, para Napoleon dan para Hitler.</p>
<p>Pada level cinta, kita menjumpai para Mahatma Gandhi, para Martin Luther King dan para Mandela. Ini di mana kita peduli pada sesama.</p>
<p>Pada tingkatan kasih, kita bersua denga para Krishna, para Buddha, para Yesus, para Muhammad, dan makhluk spiritual lainnya. Iniah tahapan pelayanan tanpa pamrih.</p>
<p>Kama ialah purushartha ketiga, atau pilar terpenting nomor tiga dalam struktur kehidupan manusia. Kita sebelumnya telah membahas dua yang pertama, dharma dan artha, atau kebajikan dan kekayaan.</p>
<p>Di atas lapisan kesadaran yang lebih tinggi, kama merubah dirinya menjadi sankalpa, atau kekuatan niat. Lebih jauh tentang itu nanti.</p>
<p>Sementara waktu ini dulu, kita berjumpa lagi minggu depan untuk mengeksplorasi purusharta keempat sekaligus terakhir, moksa, kebebasan mutlak, pembebasan, keselamatan, atau apapun sebutan kita untuknya. Sampai jumpa.</p>
<p>Anand Krishna*<br />
(Radar Bali, Rabu 28 Oktober 2009)<br />
<em>* Penulis adalah aktivis spiritual, dan telah menulis lebih dari 130 buku. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang kegiatannya di Bali, silahkan menghubungi Aryana atau Debbie di 0361 7801595 atau 8477490, atau kunjungi <a href="../../" target="_blank">www.aumkar.org</a>, <a href="http://www.anandkrishna.org/" target="_blank">www.anandkrishna.org</a> (Tulisan ini pertama kali dimuat di The Bali Times, diterjemahkan oleh Nugroho Angkasa).</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aumkar.org/ind/?feed=rss2&amp;p=220</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terorisme: Siapa Yang Paling Bertanggung Jawab?</title>
		<link>http://www.aumkar.org/ind/?p=195</link>
		<comments>http://www.aumkar.org/ind/?p=195#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 18:11:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media Lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aumkar.org/ind/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Pemakaman para teroris dihadiri oleh ratusan orang. Seorang ustad  mendoakan mereka supaya “mendapat pahala dan ampunan” dari Gusti Allah, karena “mereka tetap pejuang…..” dan telah  “memperjuangkan syariat …….&#8221;
Meskipun, sebelumnya ustad yang sama memang mengaku, bila ijtihad (=metode, upaya, cara) yang dilakukan para teroris, oops, syuhda itu berbeda dengan dirinya.

Ustad, dalam pengertian saya, adalah seorang Guru. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemakaman para teroris dihadiri oleh ratusan orang. Seorang ustad  mendoakan mereka supaya “<em>mendapat pahala dan ampunan</em>” dari Gusti Allah, karena “<em>mereka tetap pejuang…..</em>” dan telah  “<em>memperjuangkan syariat ……</em>.&#8221;</p>
<p>Meskipun, sebelumnya ustad yang sama memang mengaku, bila <em>ijtihad </em>(=metode, upaya, cara) yang dilakukan para teroris, <em>oops</em>, <em>syuhda </em>itu berbeda dengan dirinya.<br />
<span id="more-195"></span><br />
Ustad, dalam pengertian saya, adalah seorang Guru. Dan, seorang Guru semestinya menjadi <em>positive role model</em>. Perilakunya dicontohi oleh para murid. Ia menjadi panutan.</p>
<p>Apa yang terjadi bila seorang Guru menyatakan bahwa teroris adalah pejuang, mereka telah berjasa terhadap agama, mereka gugur sebagai <em>martyr</em>? Sinyalmen apa yang kiranya diterima oleh murid-murid lain?</p>
<p>Hukum tidak berdaya, karena membutuhkan bukti. Pemerintah tidak berdaya, karena adanya sekian banyak kepentingan politik. Namun, Anda dan saya tidak boleh menyerah. Kita mesti melindungi anak-anak kita dari para Guru yang telah melupakan tugas kewajiban mereka.</p>
<p>Sebagai <em>role model</em>, seorang Guru semestinya “berkembang” dan membantu “perkembangan diri” anak-didiknya. Untuk itu, adalah sangat penting bila seorang Guru memiliki kemampuan untuk:</p>
<p>1.    <strong>Menstimulasi Rasa Cinta</strong>. Karena, cinta adalah kekuatan batin yang dapat membantu pengembangan diri seorang anak secara utuh. Adakah sang ustad dalam bahasan kita ini berhasil menumbuh-kembangkan rasa cinta di dalam diri anak-didiknya? Kita tahu sendiri bila sejumlah teroris yang sudah mati, dalam tahanan, maupun yang masih berkeliaran bebas – pernah berhubungan dengannya.</p>
<p>2.    <strong>Menemukan Potensi Diri</strong>. Saya tidak percaya bila radikalisme, fanatisme, ekstremisme dan sebagainya adalah potensi diri manusia. Kekerasan di dalam diri manusia justru mesti diolah menjadi kelembutan lewat pendidikan.</p>
<p>3.    <strong>Menumbuhkembangkan Rasa Percaya Diri</strong>. Untuk apa? Yang jelas bukanlah untuk menjadi egois dan hanya mementingkan diri. Tidak menjadi arogan dan menganggap dirinya saja yang paling benar, atau agama yang dianutnya saja yang paling mulia.</p>
<p>4.   <strong> Merasakan Persatuan</strong>. Bukan dengan sesama manusia saja, tetapi dengan sesama makhluk, dengan alam semesta.</p>
<p>Diatas empat pilar kemampuan inilah seorang Guru membangun karakter diri, dan membantu pembentukan karakter anak didiknya.</p>
<p>Karakter macam apa yang telah dan tengah dibangun oleh sang guru dalam bahasan kita ini? Adakah ia patut menjadi <em>role model</em> atau panutan? Bila ia memang tidak setuju dengan perbuatan mereka, maka untuk apa mengagung-agungkan kematian mereka dan menyatakan mereka mati syahid?</p>
<p>Kadang saya mendengar para guru di sekolah mengeluh: “Para siswa berada di sekolah selama beberapa jam saja, selebihnya mereka di rumah dan bersama teman-teman mereka.”</p>
<p>Dengan alasan itu, mereka seolah bebas dari tanggung-jawab. Tidak, tidak bisa. Seorang guru ibarat tukang kebun “kesadaran” di dalam diri setiap anak didiknya. Seorang tukang kebun tidak perlu berada di kebun sepanjang hari. Cukup beberapa jam saja untuk mengawasi tanaman yang ada.</p>
<p>Lingkungan dan pergaulan memang bisa merusak kesadaran kita. Maka, adalah kewajiban seorang guru untuk mengarahkan anak didiknya supaya mereka dapat memilah mana yang baik, dan mana yang tidak baik bagi dirinya.</p>
<p>Saya sering memberi contoh seorang anak yang baru masuk sekolah. “Namamu siapa?” tanya guru yang menjadi wali kelas. Anak itu langsung menjawab, “Jangan John.”</p>
<p>Aneh, kenapa “Jangan” John?</p>
<p>Dengan polosnya, anak itu menjelaskan, “Soalnya, di rumah aku mau apa juga,  ibu selalu bilang, ‘jangan John, jangan John…”</p>
<p>Lantas, apakah melarang seorang anak untuk melakukan sesuatu yang tidak baik itu menjadi haram? Apakah kita mesti membiarkan anak didik kita menjadi penjahat dan pelaku aksi kekerasan?</p>
<p>Disinilah kepandaian, kemampuan, dan “kreatifitas” seorang Guru Sejati teruji. Ia mesti mampu menghindarkan anak didiknya dari segala perbuatan yang tidak baik, dengan cara menumbuhkan kesadaran mereka terhadap hal-hal yang baik.</p>
<p>Lewat contoh, cerita, permainan dan aktivitas lainnya, seorang guru dapat memberi kesadaran kepada anak didiknya, “Begini lho, kalau kamu bersifat seperti Duryodhana dan Durshashana. Dan, begini jadinya kalau kamu seperti Krishna dan Arjuna.”</p>
<p>Kita kembali pada pertanyaan kita, pada judul tulisan ini: Siapakah yang paling bertanggung jawab atas terjadinya aksi kejahatan, terorisme dan lain sebagainya? Kita yang menjadi guru, entah guru TK, SD, SMP, SMU, dosen, guru besar, atau guru spiritual, guru apa saja.</p>
<p>Kita, sebagai guru, bertanggung jawab penuh atas kejahatan yang dilakukan oleh Imam Samudera, Muchlas, Amrozi, Ibrohim, Eko, dan Noordin. Kita telah gagal sebagai guru.</p>
<p>Mari kita renungkan bersama, bagaimana merubah kegagalan kita selama ini menjadi keberhasilan? Hanya ada satu cara, yaitu dengan mengembangkan di dalam diri kita masing-masing, apa saja yang hendak kita kembangkan dalam diri anak-didik kita.</p>
<p>Bila kita menginginkan mereka jadi Soekarno, Hatta, Syahrir dan Pane – maka janganlah bersikap seperti guru di dalam bahasan kita ini.</p>
<div style="text-align: left;"><strong>Oleh Anand Krishna*</strong><br />
(Radar Bali, Rabu 26 Agustus 2009)</div>
<p><em>*Aktivis Spiritual, penulis hampir 130 buku, belasan diantaranya dalam bahasa Inggeris (<a href="../../" target="_blank">www.aumkar.org</a>, <a href="http://www.anandkrishna.org/" target="_blank">www.anandkrishna.org</a>). Untuk mengetahui lebih banyak tentang kegiatannya di Bali, silakan menghubungi Aryana atau Debbie di 0361 7801595, 8477490</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aumkar.org/ind/?feed=rss2&amp;p=195</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ADNAN BUYUNG NASUTION: LEGENDA HIDUP</title>
		<link>http://www.aumkar.org/ind/?p=191</link>
		<comments>http://www.aumkar.org/ind/?p=191#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 10:02:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Archives]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aumkar.org/ind/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Pada awalnya saya sangat menyayangkan Adnan Buyung Nasution (ABN) menerima jabatan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Saya khawatir sistem akan membuat dia tidak dapat ‘bergerak’. Untuk seseorang seperti ABN saya mengharapkan justru Presiden yang datang kepadanya dengan mengatakan: “Coba tolong beri saya nasehat. What should I do?”
Ternyata kekhawatiran saya tentang duduknya ABN di kursi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada awalnya saya sangat menyayangkan Adnan Buyung Nasution (ABN) menerima jabatan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Saya khawatir sistem akan membuat dia tidak dapat ‘bergerak’. Untuk seseorang seperti ABN saya mengharapkan justru Presiden yang datang kepadanya dengan mengatakan: “Coba tolong beri saya nasehat. What should I do?”<br />
<span id="more-191"></span>Ternyata kekhawatiran saya tentang duduknya ABN di kursi Wantimpres, salah. ABN tetap dapat bersuara lantang, meskipun ada keterbatasan. Ketika saya diundang di forum DPR untuk memberikan pendapat tentang UU Pornografi dan Pornoaksi, saya menyaksikan bagaimana ABN dengan tegas menolak, lengkap dengan alasan-alasannya. Kita tahu bahwa undang-undang ini menjadi sangat kontroversial sehubungan dengan keberagaman budaya dan adat istiadat yang ada di Indonesia. Saya menganggap sebagai seorang Wantimpres ketegasan ABN itu luar biasa. Ini adalah pelajaran yang kita harus ambil dari ABN. Janganlah seorang aktivis yang memperoleh jabatan, dari Presiden atau dari pemerintah, atau menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, lupa pada idealisme semula.</p>
<p><strong>Langsung ‘Klik’</strong></p>
<p>Perkenalan saya secara pribadi dengan ABN memang belum lama, yaitu ketika muncul masalah Ahmadiyah. Perlu dicatat, saya bukan orang ahmadiyah, saya pribadi juga tidak sepaham dengan ajaran Ahmadiyah dalam beberapa hal, tetapi tidak berarti saya membiarkan orang-orang Ahmadiyah dizalimi. Ketika muncul persoalan Ahmadiyah itu saya bersama beberapa teman menghadap ABN. Ketika kami baru berbicara sedikit saja, langsung ‘klik’. Kesepahaman yang terjadi antara saya dan ABN adalah komitmen untuk kemanusiaan. Karena yang kami bicarakan adalah esensi kemanusiaannya. Seharusnya visi ABN tentang hak asasi manusia itu dapat sampai ke tingkat grass root, kita bina dan kita berikan semacam edukasi. Bukan dogma, bukan tentang surga dan neraka, tapi edukasi.</p>
<p>Secara pribadi sekali lagi saya jelaskan bahwa saya tidak sepaham dengan ajaran Ahmadiyah dalam beberapa hal. Misalnya pandangan mereka yang menomorduakan wanita. Tetapi ketika mereka dizalimi, hal itu menjadi tidak pantas dan merupakan penghinaan terhadap warga negara kita, bangsa kita. Karena itu saya menawarkan kepada Ahmadiyah: “Kalau memang anda tidak punya seorang juru bicara di luar negeri, saya bersedia membawa kasus Anda ke PBB atau ke mana pun”</p>
<p>Saya memiliki komitmen yang sama dengan ABN mengenai hak asasi manusia, bahkan komitmen ABN lebih hebat. Dalam hal kebebasan beragama dan berkeyakinan sebagai bagian dari hak asasi manusia, ABN bersama sejumlah orang bergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan.</p>
<p>Dalam diri ABN terdapat komitmen yang begitu besar terhadap penegakan hukum, demokrasi, dan hak asasi manusia. Banyak orang yang berbicara tentang hak asasi manusia, banyak aktivis yang dulunya begitu gigih memperjuangkan penegakan hukum, demokrasi , dan hak asasi manusia, tapi begitu menjadi bagian dari sistem yaitu diangkat sebagai pejabat, cepat atau lambat termakan oleh sistem. Tetapi ABN tidak termakan oleh sistem. Ini adalah sikap yang saya kagumi.</p>
<p><strong>Memiliki Kesamaan Visi</strong></p>
<p>Padepokan Anand Ashram yang kami dirikan mempunyai visi: one earth, one sky, one human kind (satu bumi, satu langit, satu umat manusia). Padepokan yang pertama di Sunter, Jakarta, di suatu rumah kecil. Kemudian berkembang di Ciawi pada tahun 2000, dan sekarang berada di beberapa kota lain. Kami tidak ingin menjadi eksklusif, sehingga di dalam komunitas ini tidak ada keanggotaan. Setiap orang boleh datang dan pergi seenaknya.</p>
<p>Selain program untuk kesehatan holistik, ada juga kursus-kursus yang kami berikan, misalnya manajemen stress. Kalau seseorang lulus, bukan lulus dengan pengertian ada rapornya, tapi dia sudah merasa puas menjalani kursus itu. Dalam perjalanan waktu 10 tahun, 15 tahun, sampai sekarang 18 tahun, sudah puluhan ribu orang pernah mengikuti program-program kami. Beberapa teman yang melihat pencapaian ini mengusulkan agar visi ini dikonkretkan. Maka lahir padepokan di Ciawi yang kami namakan One Earth. Di situ ada 21 keluarga yang hidup bersama, dari latar belakang dan agama yang berbeda. Untuk umat Islam ada Mushala, untuk umat Katolik ada Gua Maria, untuk umat Hindu ada Kuil. Dan, ada hall cukup besar di mana kami bisa bertemu bersama, melepaskan segala macam perbedaan. Ada program untuk anak-anak mereka, ada sayap muda-mudi yang kami sebut torchbearer, pembawa obor. Tidak ada pagar di antara kelompok-kelompok itu.</p>
<p>Dengan adanya komunitas tersebut kami ingin memberikan contoh bahwa this is possible, kebersamaan itu bukan sesuatu yang mustahil. Pernah pada tahun 2005 kami mengadakan seminar, dibantu oleh Menteri Pertahanan dan juga Lemhanas. Menteri Pertahanan memberikan statement bahwa memang yang dibutuhkan bangsa ini pertahanan kultural, pertahanan nonmiliter, karena sekuat-kuatnya pertahanan militer sampai kapan dapat mempersatukan kita sebagai suatu bangsa?</p>
<p>Beberapa bulan terakhir ini kami melakukan eksperimen di padepokan di Bali, di mana mayoritas yang datang beragama Hindu dan ketuanya seorang Muslim. Meskipun umat Islam minoritas, tapi menurut kami tak menjadi soal. Sebaliknya di padepokan Joglo Semar, Jakarta, mayoritas yang datang beragama Islam yaitu 60%, sedangkan 40% Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha. Minoritasnya Katolik dan Kristen. Tapi ketuanya seorang dokter dan dia Katolik. Kami melihat bahwa semuanya bisa berjalan dengan baik. Ternyata memungkinkan.</p>
<p>Saya ingin mengubah paradigma bahwa agama menjadi sesuatu yang harus kita pertimbangkan dalam memilih seorang pemimpin. Salah satu perjuangan kami adalah menghapuskan kolom agam di KTP. Dalam hal yang menyangkut hukum dan hak asasi manusia tidak ada sekat-sekat agama. Karena itu seharusnya tidak ada pengacara yang mengatasnamakan agama: pembela Muslim, pembela Kristen, dan lain-lain. Apa urusannya dengan agama? ABN sendiri sudah sering mengatakan kepada para pengacara untuk tidak menggunakan istilah-istilah itu.</p>
<p>Setiap tanggal 1 September, sejak tahun 2006, berturut-turut kami memberikan penghargaan Aku Bangga Jadi Anak Indonesia, yaitu kepada Sultan Hamengkubuwono X, I Made Mangku Pastika (Kapolda bali), dan tahun 2008 kepada ABN. Saya katakan, sebenarnya dengan memberikan penghargaan ini saya sekaligus ingin ’menodong’ ABN agar selalu berada di garis terdepan dalam membela kebenaran dan keadilan, demokrasi, dan hak asasi manusia, meskipun tanpa ditodong juga kami tahu bahwa ABN sudah berada di garis terdepan. Saat pemberian penghargaan ABN sedang sakit, jadi tidak dapat hadir, tapi beliau mengirimkan pesan lewat video yang kami putar di Art Center di Bali, dihadiri kurang lebih 5000 orang. Putri dan keluarga beliau hadir menerima penghargaan tersebut. Saya merasa tersanjung ketika beberapa minggu kemudian, ketika ABN sembuh, menyempatkan diri datang ke Center kami di Bali.<br />
Visi ABN adalah juga visi saya. Saya merasa bahwa tatkala saya berdialog dengan ABN (juga dengan Syafii Maarif dan Nurcholish Madjid), kami memiliki visi dan komitmen yang sama.</p>
<p><strong>Manakah ABN-ABN Muda?</strong></p>
<p>Setelah kunjungannya di padepokan di Bali, kami mengundang ABN ke padepokan kami di Ciawi untuk memberikan wejangan tentang makna Sumpah Pemuda. Hadir sekitar 150 mahasiswa-mahasiswa dari berbagai kampus.</p>
<p>Secara fisik ABN sakit, jadi beliau berjalan dengan dipapah. Tapi dalam keadaan sakit itu pun tidak ada perbedaan pada suaranya, pada semangatnya. Ini yang istimewa. Biasanya penyakit fisik akan memengaruhi emosi dan pikiran. Tapi ABN tidak. Bahkan ketika kami ingin memberikan kursi beliau mengatakan: ”Tidak. Saya akan bicara berdiri.” Ketegaran seperti ini luar biasa, jarang orang yang memilikinya.</p>
<p>Pada kesempatan itu saya melihat betapa bahagianya seorang Adnan Buyung Nasution ketika dapat berbicara langsung dengan para pemuda-pemudi, dan begitu besar harapan beliau terhadap mereka. Saya juga melihat pemuda-pemudi yang hadir terkesima, terpesona, dan sangat terinspirasi oleh apa yang disampaikan ABN. Barangkali mereka baru mengenal beliau lewat tulisan, lewat media massa. Ketika bertatap muka langsung dan dalam kelompok yang relatif tidak besar terjadi interaksi yang sangat intensif, sangat mendalam. Itu pengalaman yang menarik sekali yang beruntung saya saksikan. Saya mengharapkan apa yang menjadi pemikiran ABN dapat disosialisasikan melalui tulisan beliau, opini beliau. Saya bahkan mengharapkan ABN mengadakan roadshow untuk memasyarakatkan pemikiran-pemikirannya.</p>
<p>Masalah utama yang dihadapi oleh bangsa kita adalah pendidikan. Antara lain kenyataan bahwa di zaman sekarang kita perlu memiliki kemampuan berbahasa Inggris untuk melakukan komunikasi dalam berbagai hal dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Namun, fakta berbicara bahwa baru sejumlah kecil saja masyarakat kita yang mampu menggunakan bahasa Inggris dengan fasih. Dari kisah hidup ABN kita tahu bahwa sejak muda ABN sudah lebih pandai berbahasa Inggris dibanding kawan-kawannya, sehingga memberikan kesempatan kepadanya untuk lebih melesat mengembangkan diri.</p>
<p>Yang membuat saya semakin kagum, sampai setua ini pun ABN masih mau belajar. Maksud saya tentunya bukan hanya belajar di institusi formal, tetapi dengan banyak membaca buku. Saya memiliki buku-buku di perpustakaan di Ciawi yang belum pernah dibacanya, dan beliau ingin tahu apa isinya, beliau ingin mempelajarinya. Tidak ada ego barrier dalam diri ABN, seperti anggapan: ”Ah, saya sudah mencapai tingkat ini, status ini, saya tidak perlu belajar lagi.” Memperoleh dan mengembangkan wawasan sangat penting, sebab itu tahun ini mudah-mudahan kami dapat membuka sekolah di Bali yang kami sebut One Earth School. Kita butuh anak-anak muda yang berwawasan, yang mampu go international, sekaligus tidak melupakan kebudayaan dan jati diri bangsa.</p>
<p><strong>Tularkan Semangatnya</strong></p>
<p>Pada tanggal 14 Januari yang lalu kami mengundang ABN sebagai tamu kehormatan pada acara ulang tahun padepokan kami yang ke-18, di Taman Mini Indonesia Indah. Beliau masih sakit, syaraf pinggangnya terjepit. Kami diberitahu bahwa ABN hanya hadir untuk 15-20 menit, tapi ternyata beliau bersedia duduk selama dua jam. Agaknya ABN sangat tertarik pada acara yang kami suguhkan, yaitu sendratari yang dimainkan oleh kelompok tari internasional dari Bali dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kisahnya diangkat dari Sutasoma karya Empu Tantular 500 tahun yang lalu. Kisah itu menjadi acuan bagaimana kita memandang kebergaman dan perbedaan, yang menjadi indah dengan adanya benang merah yang mempersatukan kita. Kita sudah memiliki falsafah pluralisme itu begitu lama, sudah ratusan tahun.</p>
<p>Ketika saya bertemu seorang biarawan di India, dia bercerita bahwa 1000 tahun yang lalu banyak pelajar dan cendekiawan India pergi ke Kerajaan Sriwijaya untuk belajar. Bukan sebaliknya. Mereka punya catatan ajaran apa saja yang diberikan kepada para pelajar itu di Swarnadwipa, dan dibawa pulang ke Tibet dan ke India. Ketika saya bertemu dengan Dalai Lama ke-14 di tempat pengasingannya, kami juga membicarakan tentang hal itu. Karena itu, saya ingin mengatakan, janganlah kita melupakan jati diri kita, jangan sampai kehilangan akar budaya kita.</p>
<p>Apa yang terjadi sekarang ini adalah kita melihat MTV generation, yang arahnya kebarat-baratan. Atau kelompok orang yang arahnya kearab-araban. Atau sinetron kita menjiplak habis India. Atau ’euforia’ Cina seolah-olah Cheng Ho datang untuk mengajarkan budaya kepada kita. Ini tidak benar. Kita sudah memiliki budaya yang tinggi jauh sebelumnya. Indonesia memiliki budaya sendiri yang sangat kaya dan beragam. Ada penelitian yang dimuat di dalam tiga buku tebal karya seorang profesor dari Kanada, tentang sejarah kita dari zaman Majapahit sampai zaman Megawati Soekarnoputri. Penelitian itu menarik sekali. Intinya, yang mampu mempersatukan kita dari satu pulau ke pulau yang lain adalah landasan budaya kita.</p>
<p>Harus diakui sudah cukup banyak orang muda Indonesia yang muncul dan maju ke depan, tapi saya belum melihat komitmen mereka yang sekuat ABN. Kalau di masa pra dan awal kemerdekaan kita tidak hanya melihat ada Soekarno dan Hatta, tapi saya juga mengagumi tokoh seperti Syahrir, Mohammad Yamin, Ki Hajar Dewantara, Sanoesi Pane, yang dengan cara masing-masing berkontribusi dan berkomitmen untuk kejayaan bangsa ini. Tokoh-tokoh seperti mereka, sekarang ini jarang kita miliki. ABN adalah seorang dari yang jarang itu.</p>
<p>Bagi saya ABN adalah seorang legenda hidup. Harapan saya pada bangsa ini, pada muda-mudi kita, belajarlah dari beliau sebanyak-banyaknya. Pemikiran ABN juga dapat dipelajari lewat buku-bukunya. Dan, yang paling penting harus dipelajari adalah semangatnya, dan tularkanlah ke dalam diri kita masing-masing.</p>
<p><strong>Oleh Anand Krishna</strong><br />
<em>(Diambil dari Buku ”75th Adnan Buyung Nasution INSPIRATOR”, penyunting: Nina Pane, penerbit: Galacita, 2009)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aumkar.org/ind/?feed=rss2&amp;p=191</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adat versus Budaya</title>
		<link>http://www.aumkar.org/ind/?p=181</link>
		<comments>http://www.aumkar.org/ind/?p=181#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 13:47:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media Lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aumkar.org/ind/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Sebagaimana diberitakan oleh Radar Bali (16/08/09), kawan saya Dewa Gede Palguna mengkhawatirkan “penghancuran” Bali oleh dirinya sendiri. Sebabnya adalah “kesatuan-kesatuan hukum adat” yang barangkali membutuhkan peremajaan dan “kesadaran kolektif” yang baru.

Saya sangat setuju dengan pendapat Palguna. Saya pun mengkhawatirkan hal yang sama. Padahal, semestinya itu tidak terjadi. Semestinya kekhawatiran kita tidak beralasan. Namun, faktanya kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagaimana diberitakan oleh Radar Bali (16/08/09), kawan saya Dewa Gede Palguna mengkhawatirkan “penghancuran” Bali oleh dirinya sendiri. Sebabnya adalah “kesatuan-kesatuan hukum adat” yang barangkali membutuhkan peremajaan dan “kesadaran kolektif” yang baru.<br />
<span id="more-181"></span><br />
Saya sangat setuju dengan pendapat Palguna. Saya pun mengkhawatirkan hal yang sama. Padahal, semestinya itu tidak terjadi. Semestinya kekhawatiran kita tidak beralasan. Namun, faktanya kita khawatir, pun alasan kita sangat kuat. Yaitu, sebagaimana dijelaskan oleh Dewa Palguna, adanya konflik antara dan antar kesatuan-kesatuan hukum adat.</p>
<p>Kenapa hal ini mesti terjadi?<br />
Karena, kita telah menyalahartikan istilah “adat”.</p>
<p>“Adat” sebagaimana telah saya jelaskan berulang kali lewat ulasan-ulasan saya sebelumnya, berasal dari bahasa Persia kuno, yang kemudian diadopsi dalam bahasa Arab. Terjemahan yang terdekat dalam bahasa Indonesia adalah “kebiasaan”.</p>
<p>Masyarakat Arab juga mengenal istilah lain, yaitu “Hadith” atau Hadis, yang berarti “tradisi” atau riwayat-riwayat kuno, biasanya dikaitkan dengan kehidupan dan wejangan para nabi. Dalam tradisi Bali, ini disebut “Purana”, dan Bali memiliki sekian banyak “purana” : Brahma, Vishnu, Shiva, Agni, Garuda dan purana-purana lainnya.</p>
<p>Hukum di negara-negara Arab menggunakan hadis sebagai referensi, pun pendapat para alim-ulama, yang semuanya dipercayai berkiblat pada kitab suci Al-Qur’an. Nah, pendapat para alim ulama Arab sangat dipengaruhi oleh adat-istiadat Arab dan wilayah Timur Tengah sekitar Jazeera Arab.</p>
<p>Kenapa saya mesti menjelaskan semuanya ini, karena sesungguhnya di kepulauan Nusantara ini, kita tidak memiliki pemahaman yang sama seperti orang-orang Arab.</p>
<p>Pemahaman kita disini adalah “budaya sebagai sumber perilaku dan hukum”, bukan “adat”.  Budaya, sekali lagi, tidak sama dengan adat.</p>
<p>Budaya adalah adat-istiadat yang baik, bijak, dan relevan dengan zaman. Selain  itu, nilai-nilai universal yang tidak pernah kadaluarsa, seperti cinta-kasih, kedamaian, dan kebersamaan – nilai-nilai yang mesti dilestarikan – adalah bagian dari budaya.</p>
<p>Hukum dan pedoman perilaku manusia memang semestinya berdasarkan budaya, bukan berdasar adat in wholesale.</p>
<p>Banyak sekali adat-istiadat yang sudah tidak relevan, sudah tidak sesuai dengan zaman – maka mesti ditinggalkan, tidak perlu dibudayakan.</p>
<p>Misalnya: Ayah saya adalah seorang perokok, ayahnya pun seorang perokok, kakeknya seorang perokok. Merokok telah menjadi kebiasaan dalam keluarga saya. Lantas, apakah saya mesti melestarikan kebiasaan itu, adat itu, dan menjadikannya pedoman bagi perilaku saya? Apakah saya pun mesti mengikuti kebiasaan buruk itu?</p>
<p>Kebiasaan-kebiasaan buruk, adat-istiadat yang sudah usang mesti ditinggalkan, dibuang jauh-jauh, karena berpotensi merusak tatanan masyarakat. Ini yang dikhawatirkan Dewa Palguna, dan ini pula yang saya khawatirkan.</p>
<p>Orang-orang yang berkacamata kuda, mereka yang ingin mempertahankan kekuasaan dengan segala macam cara, mereka yang terbiasa menghalalkan apa saja demi kepentingan pribadi – adalah orang-orang yang biasanya keuh-keuh mempertahankan adat, seusang apa pun adat itu.</p>
<p>Mereka adalah orang-orang yang tertutup mata hatinya, jiwanya, dan akal sehatnya. Ketertutupan ini, sebagaimana telah terbukti secara medis, menyebabkan otak kita mengkerut, yang kemudian berlanjut menjadi gangguan jiwa.</p>
<p>Para penjahat berdarah dingin yang biasa disebut “teroris”, adalah bukti nyata akan hal ini. Mereka pun percaya pada adat-istiadat dan kepercayaan yang tidak masuk akal. Mereka menutup diri terhadap perkembangan zaman dan kemajuan peradaban. Maka, mereka menjadi alot, keras, kaku, dan kasar.</p>
<p>Bali mesti berhati-hati.</p>
<p>Sebagaimana diperingatkan oleh Dewa Palguna, Bali mesti waspada dan eling. Bila tidak, maka kekhawatiran beliau bisa menjadi kenyataan. Sesungguhnya, dan ini sangat ironis, tanda-tanda kearah itu sudah terlihat jelas.</p>
<p>Saya bertemu dengan sekian banyak orang Bali di Jakarta yang mengaku muak dengan beberapa hukum adat, khususnya denda bagi warga yang sudah lama merantau dan kemudian dijatuhkan sangsi saat mau mengadakan upacara ngaben dan sebagainya. Bahkan, saya memiliki data-data lengkap dari beberapa orang yang kemudian berpindah agama hanya karena hal itu. Apakah hal ini mesti berlanjut?</p>
<p>Celakanya, sebagaimana juga dalam umat lain, setiap orang yang meninggalkan agama asalnya dan mengadopsi agama lain, justru menjadi sangat fanatik. Karena, mereka biasanya memiliki beban psikologis untuk membuktikan kepada diri sendiri bila pilihan mereka itu sudah tepat.</p>
<p>Maka, orang Hindu yang masuk Islam, akan selalu menjelek-jelekkan agama Hindu. Begitu pula orang Islam yang masuk Kristen, menjelek-jelekkan agama Islam. Demikian seterusnya. Bahkan, ketika “pindahan” ini menjadi ulama dalam agama baru yang diadopsinya, tidak jarang malah menebarkan kebencian terhadap agama yang ditinggalkannya.</p>
<p>Tidak lama yang lalu, seorang ulama seperti itu muncul di layar teve, yang salah seorang pemiliknya adalah “keluarga” seorang pejabat dan dengan gagah berani mengatakan: Setiap agama memiliki kitab suci, tapi semuanya itu sekedar kitab-kitaban, yang betul-betul kitab hanyalah kitab agama kita.</p>
<p>Ini hanyalah salah satu contoh dari akibat pergeseran nilai-nilai dan pendewaan adat-istiadat yang tidak bijak. Contoh lain yang telah saya ulas sebelumnya adalah  bertumbuhnya generasi penjahat yang sering disebut teroris.</p>
<p>Bali, berpikirlah secara matang. Apa maumu?</p>
<p>Buktikan saya salah, buktikan kekhawatiran Dewa Palguna tak beralasan. Kita pun (saya yakin kawan saya Dewa Palguna akan setuju) ikut berdoa semoga kekhawatiran kita tidak terbukti, semoga kita salah. Semoga Bali tetap jaya, maju, dan berkembang terus, serta menjadi pembawa berita baik bagi seluruh kepulauan Nusantara.</p>
<p><strong>oleh  Anand Krishna  (Radar Bali, Rabu 19 Agustus 2009)</strong></p>
<p>Link to: <a href="http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=225:adat-versus-budaya&amp;catid=15&amp;Itemid=56" target="_blank">AKC Bali</a><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aumkar.org/ind/?feed=rss2&amp;p=181</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rendra punya Bali</title>
		<link>http://www.aumkar.org/ind/?p=179</link>
		<comments>http://www.aumkar.org/ind/?p=179#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 13:45:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media Lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aumkar.org/ind/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Seperti Mbah Surip, seperti para seniman lainnya, seperti nantinya juga saya dan Anda, W.S. Rendra pun akhirnya mati. Namun, lain matinya Rendra dan Mbah Surip, dan barangkali lain pula mati kita.

Rendra, seperti juga Mbah Surip meninggalkan cerita, banyak cerita. Kita belum tentu meninggalkan apa-apa. Hidup kebanyakan orang tanpa cerita yang berarti. Sekolah, pacaran, bekerja, berkeluarga, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti Mbah Surip, seperti para seniman lainnya, seperti nantinya juga saya dan Anda, W.S. Rendra pun akhirnya mati. Namun, lain matinya Rendra dan Mbah Surip, dan barangkali lain pula mati kita.<br />
<span id="more-179"></span><br />
Rendra, seperti juga Mbah Surip meninggalkan cerita, banyak cerita. Kita belum tentu meninggalkan apa-apa. Hidup kebanyakan orang tanpa cerita yang berarti. Sekolah, pacaran, bekerja, berkeluarga, banyak uang, sedikit uang, keluarga bahagia, keluarga kurang bahagia, cerai, paksa mempertahankan perkawinan, beranak-pinak. Dan, akhirnya mampus.</p>
<p>Banyak diantara kita yang lahir, hidup dan mati seperti itu. Cerita kita ibarat garis lurus, entah vertikal, entah horisontal. Tapi tidak banyak liku-liku. Banyak perkara, tapi semuanya biasa-biasa saja.</p>
<p>Tidak demikian dengan Rendra.<br />
Rendra, seolah adalah makhluk lain.</p>
<p>Willibrordus Surendra Broto Rendra, lahir di Surakarta (Jawa Tengah) dalam keluarga Kristen pada tanggal 7 November 1935. Dan, meninggal di Depok (Jawa Barat) pada tanggal 6 Agustus 2009, dimakamkan dengan upacara Islam.</p>
<p>Diantara dua titik kelahiran dan kematian itu adalah Rendra, seorang manusia. Seorang manusia Indonesia.  Agenda kelahiran bukanlah di tangan kita. Keberadaan yang menentukan kita lahir dalam keluarga Kristen, Hindu, Buddhis, Islam, Kong Hu Cu, atau bahkan keluarga ateis.</p>
<p>Kematian pun tidak di tangan kita, kendati upacara perabuan atau penguburan bisa kita tentukan sebelumnya. Jasad mau dimakamkan dengan cara apa, pakai upacara agama mana, atau diperabukan dengan cara apa pula – kita masih bisa menentukan hal itu. Bisa membuat wasiat, dengan harapan keluarga kita akan patuh pada apa yang tercantum dalam wasiat itu.</p>
<p>Karena, sering pula terjadi orang mau dimakamkan, malah diperabukan oleh keluarganya, atau sebaliknya yang lebih sering terjadi. Mau diperabukan, malah dimakamkan.</p>
<p>Entah titik kelahiran itu penting atau tidak, entah titik kematian itu penting atau tidak. Atau, mana yang lebih penting. Entah. Namun, diantara kedua titik tersebut adalah kehidupan kita, hidup kita. Itu penting.</p>
<p>Rendra memahami betapa pentingnya “kehidupan”. Maka, ia menjalaninya sesuai dengan apa yang diinginkannya. Rendra adalah seorang seniman, kendati demikian seni bukanlah satu-satunya definisi kehidupan seorang Rendra.</p>
<p>Rendra juga adalah seorang pemikir, seorang filsuf, sekaligus seorang aktivis. Tahun 2005, menjelang ulang tahunnya yang ke-70, sang maestro berjujur kata kepada seorang wartawan dari media nasional: “Masalahnya, sekarang ini kegiatan-kegiatan seni dan budaya pun selalu dikaitkan dengan  uang, dengan aspek ekonomi.  Semuanya menjadi komersil.</p>
<p>“Lihat saja, halaman-halaman iklan dalam koran melebihi halaman-halaman tentang kegiatan seni dan budaya.</p>
<p>“Ini yang belum tuntas saya kerjakan – kritik saya terhadap pemerintah dan pola pembangunannya.”</p>
<p>Belum tuntas, atau kita saja yang budeg, sehingga suara Rendra tak terdengar? Khususnya tentang Bali, ia sudah pernah memberi peringatan lewat puisinya yang indah:</p>
<p>“Sebab percaya akan keampuhan  industri; dan yakin bisa memupuk modal nasional. Dari kesenian dan keindahan alam, maka Bali menjadi obyek pariwisata.”</p>
<p>Bahkan, oleh para pejabat dan pemimpin yang tidak menghargai budaya, urusan budaya pun dikaitkan dengan pariwisata. Dan, seorang menteri disuruh mengurusi keduanya secara bersamaan. Berarti, budaya itu hanyalah atraksi bagi para wisatawan. Tidak memiliki arti lain, makna lain.</p>
<p>Rendra menyindir kita, “Betapapun: tanpa basa-basi keyakinan seperti itu, Bali harus dibuka untuk pariwisata. Sebab: pesawat-pesawat terbang jet sudah dibikin, dan maskapai penerbangan harus berjalan. Harus ada orang-orang untuk diangkut. Harus diciptakan tempat tujuan untuk dijual.”<br />
Betul sekali Mas Rendra. Apa yang terjadi di Bali saat ini sudah pernah dijelaskan oleh sang maestro: “Dan Bali, dengan segenap kesenian, kebudayaan, dan alamnya, harus bisa diringkaskan, untuk dibungkus dalam kertas kado, dan disuguhkan pada pelancong.”</p>
<p>Unsur seni, unsur kesakralan, semuanya mesti mengalah. Adalah Om Fulusudin yang mesti menentukan segala-galanya.</p>
<p>Kita tidak malu menjadi tontonan, asal ada uang: “Oh, look, honey &#8211; dear! Lihat orang-orang pribumi itu! Mereka memanjat pohon kelapa seperti kera. Fantastic! Kita harus memotretnya!”</p>
<p>Kita tidak peduli. Bodoh, asal dollarnya lancar, yennya tetap ada, dan euro mengalir. Para pelancong mengejek kita, tidak menjadi soal pula: “Awas! Jangan dijabat tangannya! senyum saja and say hello. You see, tangannya kotor. Siapa tahu ada telor cacing di situ. My God, alangkah murninya mereka. Ia tidak menutupi teteknya! Look, John, ini benar-benar tetek. Lihat yang ini! O, sempurna!”</p>
<p>Banyak penyair yang melontarkan kritikan tajam. Banyak seniman yang bicara ceplas-ceplos. Rendra bukanlah penyair atau seniman seperti itu. Ia melihat lebih jauh. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi di Bali.</p>
<p>“Dan Bank Dunia selalu tertarik membantu negara miskin untuk membuat proyek raksasa. Artinya: yang 90 % dari bahannya harus diimpor. Dan kemajuan kita adalah kemajuan budak atau kemajuan penyalur dan pemakai.</p>
<p>“Maka di Bali hotel-hotel pribumi bangkrut digencet oleh packaged tour. Kebudayaan rakyat ternoda digencet standar dagang internasional. Tari-tarian bukan lagi satu mantra, tetapi hanya sekedar tontonan hiburan. Pahatan dan ukiran  bukan lagi ungkapan jiwa, tetapi hanya sekedar kerajinan tangan.</p>
<p>“Hidup dikuasai kehendak manusia, tanpa menyimak jalannya alam. Kekuasaan kemauan manusia, yang dilembagakan dengan kuat, tidak mengacuhkan naluri ginjal, hati, empedu, sungai, dan hutan. Di Bali: pantai, gunung, tempat tidur dan pura, telah dicemarkan.”</p>
<p>Ya, Mas Rendra. Kau benar, tugasmu memang belum selesai. Bukan karena kau tidak melakukannya dengan baik, tapi karena kita memang budeg, tuli. Bali, kau telah kehilangan seseorang yang sangat mencintaimu. Entah kapan lagi kau akan bertemu dengan seorang pencinta seperti Rendra……</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; margin-bottom: 0pt;"><em><span style="font-family: 'Times New Roman','serif'; font-size: 14pt;">Anand Krishna*</span></em> (Radar Bali, Rabu 12 Agustus 2009)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: left; margin-bottom: 0pt;">Link to : <a href="http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=224:rendra-punya-bali&amp;catid=15&amp;Itemid=56" target="_blank">AKC Bali</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aumkar.org/ind/?feed=rss2&amp;p=179</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilusi Kepahlawanan</title>
		<link>http://www.aumkar.org/ind/?p=177</link>
		<comments>http://www.aumkar.org/ind/?p=177#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 13:44:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media Lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aumkar.org/ind/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[Lebih dari 2500 tahun yang lalu, pujangga besar asal Cina, Lao Tze mengingatkan kita bahwasanya seorang pemimpin yang bijak adalah ia yang dapat menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya. Ia juga menasehati rakyat jelata supaya tidak tergoda oleh rumput hijau di pekarangan rumah tetangga, dan meninggalkan rumah sendiri.

Tapi lain Lao Tze, lain gambaran pemimpin ideal yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lebih dari 2500 tahun yang lalu, pujangga besar asal Cina, Lao Tze mengingatkan kita bahwasanya seorang pemimpin yang bijak adalah ia yang dapat menyediakan lapangan kerja bagi rakyatnya. Ia juga menasehati rakyat jelata supaya tidak tergoda oleh rumput hijau di pekarangan rumah tetangga, dan meninggalkan rumah sendiri.<br />
<span id="more-177"></span><br />
Tapi lain Lao Tze, lain gambaran pemimpin ideal yang diberikannya, lain pula kita, dan para pemimpin kita. Kiranya nasehat sang pujangga tidak berlaku bagi kita, atau memang sudah kadaluarsa.</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu, pulang dari luar negeri, saya melihat spanduk raksasa persis di depan loket imigrasi, “Selamat Datang kepada Para Pahlawan Devisa”. Yang dimaksud adalah para tenaga kerja kita yang bekerja di luar negeri, baik pria maupun wanita.</p>
<p>Sungguh sangat menarik.<br />
Para anak bangsa yang bekerja di luar negeri itu hanyalah menjadi berarti, karena devisa yang mereka bawa. Kepahlawanan mereka diukur dengan materi, dengan uang yang mereka bawa pulang.</p>
<p>Saudara-saudara kita, Tenaga Kerja Indonesia yang baru pulang dari luar dan sedang antre di depan loket imigrasi pun tidak keberatan. Barangkali mereka puas, gembira.  Setidaknya, mereka dianggap pahlawan.</p>
<p>Maka, sebagai pahlawan, bila di luar sana mereka dianiaya, disiksa, dilukai oleh majikan mereka – ya wajar-wajar saja. Mereka <em>kan </em>pahlawan. Menjadi pahlawan itu tidak gampang, mesti membuktikan kepahlawanan diri. Bukankah demikian?</p>
<p>Ya? Apakah demikian?<br />
Kepahlawanan semacam apakah ini?</p>
<p>Baru-baru ini salah satu koran nasional  memberitakan bila tenaga kerja kita yang paling aman dan bahagia adalah yang bekerja di Singapura. Sebaliknya, yang paling menderita adalah mereka yang bekerja di Timur Tengah, terutama di Arab Saudi, Arab milik keluarga Saud.</p>
<p>Ah, bahagia atau tidak, aman atau tidak, kurang menderita atau lebih – barangkali, semuanya itu tidak penting. Yang penting adalah kepahlawanan. Dan, kepahlawanan menutut pengorbanan. Bukankah demikian?</p>
<p>Ya? Apakah demikian?<br />
Kepahlawanan memang membutuhkan pengorbanan. Setuju. Tapi, apa betul tenaga kerja kita yang bekerja di luar itu adalah pahlawan?</p>
<p>Apa betul kepahlawanan dapat diukur dengan materi? Wah, kalau begitu, para koruptor boleh disebut pahlawan juga, <em>dong</em>? Walau korupsi, <em>toh</em>, mereka  membayar pajak. Dan, pajak yang mereka bayar itu tidak sedikit <em>lho</em>. Jumlahnya cukup besar juga.</p>
<p>Asal duit. Menghasilkan duit, punya duit, bagi duit dengan negara, dan jangan lupa sedikit receh untuk “oknum-oknum” yang “membantu”. Namanya juga gotong-royong, demokrasi, demi rakyat, dari rakyat, untuk rakyat. Kita semua kan sama-sama rakyat. Apa salah, kalau kita mendapatkan “jatah” dari para pahlawan?</p>
<p>Barangkali karena urusan jatah pula, banyak calo taksi di bandara, bahkan preman, penjahat dan penipu berkedok supir  – selalu menunggu kedatangan para pahlawan kita dari luar negeri. Biar dapat bagian, dapat jatah.</p>
<p>Apa salahnya?<br />
Bukankah mereka sudah memperoleh gelar pahlawan devisa? Janganlah pemerintah saja yang diuntungkan, biar semua orang ikut untung <em>lah</em>!</p>
<p>Pahlawan devisa.<br />
Bagi saya, ungkapan ini adalah sebuah penghinaan terhadap sesama anak bangsa yang banting tulang di luar negeri, jadi babu di rumah, jadi supir dijalanan, tukang sapu di perkantoran, kemudian dianiaya, diludahi, ditipu, dilukai, dibakar, bahkan diperkosa. Ini bukanlah pengorbanan. Ini adalah penderitaan yang dipaksakan terhadap mereka.</p>
<p>Di luar sana, Indonesia dikenal sebagai pemasok buruh kasar, babu dan tukang sapu, supir, tukang kebung dan satpam. Jarang-jarang ada perawat asal Indonesia. Jarang-jarang ada tenaga ahli. Ada, tapi berapa banyak?</p>
<p>Citra Indonesia seperti ini mesti dirubah.<br />
Indonesia mesti menjadi pemasok tenaga ahli.</p>
<p>Saat ini, barangkali sudah ada upaya dari pemerintah maupun swasta untuk memberi pendidikan kilat kepada tenaga kerja yang hendak berangkat ke luar negeri. Namun, masih tidak cukup. Jangankan keahlian dalam bidang tertentu, misalnya keperawatan atau tenaga pengajar, banyak tenaga kerja kita yang berbahasa asing pun masih berepotan.</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu, di bandara internasional Changi, Singapura: Saya mendengar seorang tenaga kerja kita yang sedang transit dan barangkali menunggu pesawat ke Dubai, berteriak memberi tahu kepada temannya: “<em>Eh</em>, tidak ada air di WC, <em>ngak bisa cebok</em>.”</p>
<p>Dia tidak tahu apa manfaat kertas tisu di toilet. Bila tenaga kerja seperti ini dikirim ke luar negeri, kemudian ia malah mengotori toilet di rumah majikannya, yang semestinya ia bersihkan – maka apa yang terjadi?</p>
<p>Inilah citra kita sebagai pahlawan devisa.<br />
Inilah citra kita yang mengangkat mereka sebagai pahlawan.</p>
<p>Saatnya kita membenahi diri. Saatnya kita tidak mengukur segala sesuatu dengan tolok ukur materi. Saatnya kita mencucurkan keringat demi kemajuan negeri kita sendiri.</p>
<p>Indonesia masih membutuhkan tenaga buruh, pembantu rumah tangga, supir. Di Bali saja kita sudah kekurangan. Biarlah mereka bekerja di negeri sendiri.</p>
<p>Mari kita berbagi keahlian dengan negara-negara di luar sana, negara-negara yang tidak sekedar “bersahabat”, tapi sopan dan santun. Kita kirimkan ahli ukir, ahli gambar, ahli animasi, dan para ahli di bidang-bidang lain kesana. Supaya, mereka pun  tahu bila kita pernah dan tetap bisa berkontribusi terhadap peradaban dunia.</p>
<p><strong>Anand Krishna </strong>(Radar Bali, Rabu 5 Agustus 2009)</p>
<p>Link to : <a href="http://www.akcbali.org/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=223:ilusi-kepahlawanan&amp;catid=15&amp;Itemid=56" target="_blank">AKC Bali</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aumkar.org/ind/?feed=rss2&amp;p=177</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manipulasi Pikiran</title>
		<link>http://www.aumkar.org/ind/?p=171</link>
		<comments>http://www.aumkar.org/ind/?p=171#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 02:05:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media Lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aumkar.org/ind/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sejarah modern, adalah Adolf Hitler (1889-1945) yang pertama kali menggunakan mind manipulation atau manipulasi pikiran sebagai senjata.
Ibarat komputer, mind atau ”gugusan pikiran” manusia dapat dimanipulasi, dapat di-hack, bahkan dapat disusupi virus untuk merusak seluruh jaringannya.

Perilaku manusia
Dalam otobiografinya (Mein Kampf), Hitler menulis, ”Teknik propaganda secanggih apa pun tak akan berhasil bila hal yang terpenting tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam sejarah modern, adalah Adolf Hitler (1889-1945) yang pertama kali menggunakan mind manipulation atau manipulasi pikiran sebagai senjata.</p>
<p>Ibarat komputer, mind atau ”gugusan pikiran” manusia dapat dimanipulasi, dapat di-hack, bahkan dapat disusupi virus untuk merusak seluruh jaringannya.</p>
<p><span id="more-171"></span></p>
<p><strong>Perilaku manusia</strong></p>
<p>Dalam otobiografinya (Mein Kampf), Hitler menulis, ”Teknik propaganda secanggih apa pun tak akan berhasil bila hal yang terpenting tidak diperhatikan. Yaitu, membatasi kata-kata dan memperbanyak pengulangan.”</p>
<p>Kemungkinan besar, Hitler telah mempelajari penemuan Pavlov, ilmuwan asal Rusia dan peraih hadiah Nobel 1904 untuk psikologi dan ilmu medis. Melalui teorinya tentang conditioned reflex atau involuntary reflex action, sang ilmuwan membuktikan, ”perilaku manusia dapat diatur atau dikondisikan” sesuai ”proses pembelajaran yang diperolehnya”.</p>
<p>Sebenarnya Pavlov terinspirasi oleh law of association atau ”hukum keterkaitan” yang banyak dibahas para pujangga dan ilmuwan sebelumnya.</p>
<p>Menurut hukum itu, ”suatu kejadian” dalam hidup manusia atau bentuk kehidupan lain —tetapi tidak terbatas pada hewan dan tumbuhan—dapat dikaitkan dengan ”keadaan” atau ”perangsang” atau ”apa saja” yang sebenarnya tidak terkait secara langsung dengan kejadian itu.</p>
<p>Ketika seekor anjing diberi makanan, ia mengeluarkan air liur. Ini disebut refleks yang lazim atau unconditioned reflex. Ia tak perlu menjalani proses pembelajaran.</p>
<p>Namun, pada saat yang sama bila dibunyikan lonceng, terjadilah proses pembelajaran. Anjing itu mulai ”mengaitkan” bunyi lonceng dengan makanan dan air liurnya.</p>
<p>Setelah beberapa kali mengalami kejadian serupa, maka saat mendengar bunyi lonceng, air liurnya keluar sendiri meski tidak diberi makanan. Ini disebut conditioned reflex, refleks tak lazim. Keluarnya air liur itu tidak lazim, tidak ada makanan. Namun, ia tetap mengeluarkan air liur.</p>
<p>Pembelajaran ini harus diulang beberapa kali agar ”keterkaitan” yang dihendaki tertanam dalam gugusan pikiran atau mind hewan, atau&#8230; manusia!</p>
<p>Maka, tak salah bila Adolf Hitler menganjurkan ”pengulangan”. Dalam ilmu psikologi dan neurologi modern, pengulangan atau repetition juga dikaitkan dengan intensity. Apa yang hendak ditanam harus terus diulangi secara intensif.</p>
<p>Demikian bila seekor anjing dapat mengeluarkan air liur yang sesungguhnya tak lazim, manusia pun dapat dikondisikan, dipengaruhi untuk berbuat sesuatu di luar kemauannya.</p>
<p><strong>Pengulangan</strong></p>
<p>Presiden Franklin Delano Roosevelt pernah menyangkal, ”Pengulangan tidak dapat mengubah kebohongan menjadi kebenaran.” Betul, tetapi pengulangan dapat membuat orang percaya pada kebohongan.</p>
<p>Hitler membuktikan keabsahan sebuah pepatah lama dari Tibet, ”Bila diulangi terus-menerus, kebohongan pun akan dipercayai orang.”</p>
<p>Di antara kita mungkin ada yang masih ingat kasus iklan Old Joe yang digunakan produsen rokok merek Camel pada tahun 1988. Saat itu, tokoh kartun tersebut memang amat populer di kalangan remaja. Jelas, sang produsen ingin membidik kelompok itu. Dan, mereka berhasil. Jumlah perokok remaja langsung bertambah.</p>
<p>Saat itu, warga Amerika Serikat yang konon super power pun tidak sadar bila gugusan pikiran mereka sedang dimanipulasi melalui iklan yang ditayangkan berulang kali setiap hari dan di banyak media.</p>
<p>Hampir 10 tahun kemudian, setelah muncul desakan dari masyarakat dan LSM-LSM yang ”sadar”, Federal Trade Commission dan Kongres AS baru tercerahkan dan menyatakan bahwa periklanan seperti itu tidak etis dan tidak bermoral.</p>
<p>Camel pun mengalah dan menarik kembali iklan itu pada 1997. Hampir satu dekade setelah iklan yang tidak etis dan tidak bermoral itu berjalan dan menelan sekian banyak korban remaja. Sungguh amat disayangkan, ”periklanan yang tidak etis dan tidak bermoral” seperti ini pun terjadi di negeri kita, baik selama kampanye pemilihan umum maupun pemilihan presiden.</p>
<p>Saat saya membahas hal ini dengan seorang teman baik di salah satu lembaga negara yang memiliki wewenang untuk menjatuhkan sanksi kepada para pelaku, ia pun mengeluh: ”Apa yang dapat kami lakukan bila tidak ada keluhan dari masyarakat?”</p>
<p>Siapakah masyarakat yang dimaksud?</p>
<p>Anda, dan saya. Adakah keberanian untuk bersuara bila keberhasilan yang dicapai, atau kemenangan yang diraih dengan memanipulasi gugusan pikiran dan otak sesama warga bangsa? Keberhasilan dan kemenangan seperti itu semu adanya.</p>
<p>Saya berharap, saya berdoa, agar para menteri kita dalam kabinet mendatang, para wakil rakyat, anggota MPR, dan pejabat lain, termasuk yang duduk dalam KPU dan MK, Presiden, Wakil Presiden, dan rakyat Indonesia, sesama warga negara, senantiasa diberkahi pikiran dan perasaan yang jernih. Tidak saling memanipulasi dan mengeksploitasi, tetapi saling membantu untuk membangun Indonesia Baru yang lebih beradab, lebih sopan, lebih santun, lebih manusiawi.</p>
<p>Giliran Anda bertindak sesuai dengan nurani Anda.</p>
<p>Source: <a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/15/05013318/manipulasi.pikiran" target="_blank">Kompas</a><br />
Sabtu, 15 Agustus 2009 | 05:01 WIB<br />
oleh <strong>Anand Krishna</strong>, Aktifis Spiritual dan Penulis Lebih dari 120 Buku</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aumkar.org/ind/?feed=rss2&amp;p=171</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menemukan Makna Hidup</title>
		<link>http://www.aumkar.org/ind/?p=168</link>
		<comments>http://www.aumkar.org/ind/?p=168#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 18:02:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bali Times]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aumkar.org/ind/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Kesemuanya dharma (tindakan tepat), artha (keamanan sosial), kama (kenyamanan dasar) dan moksha atau kebebasan &#8211; lazimnya dianggap sebagai empat purushartha, empat pilar terpenting dari struktur kehidupan manusia.
Purusharta berasal dari bahasa Sansekerta, sebenarnya terdiri atas dua kata, purusha dan artha. Purusha biasanya diterjemahkan sebagai pria; tapi makna ini, dapat diperluas mencakup wanita juga. Jadi Purusha ialah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kesemuanya dharma (tindakan tepat), artha (keamanan sosial), kama (kenyamanan dasar) dan moksha atau kebebasan &#8211; lazimnya dianggap sebagai empat purushartha, empat pilar terpenting dari struktur kehidupan manusia.<br />
<span id="more-168"></span>Purusharta berasal dari bahasa Sansekerta, sebenarnya terdiri atas dua kata, purusha dan artha. Purusha biasanya diterjemahkan sebagai pria; tapi makna ini, dapat diperluas mencakup wanita juga. Jadi Purusha ialah keduanya, laki-laki dan perempuan &#8211; manusia.</p>
<p>Artha dapat berarti kekayaan, uang dan bahkan makna. Ini ialah sesuatu yang memberi arti bagi hidupmu.</p>
<p>Jadi keempat Purushartha semuanya memberi makna pada kehidupan. Sekarang, anda tak harus menjadi orang Bali untuk setuju bahwa mereka, sejatinya, merupakan empat hal terpenting dalam hidup ini.</p>
<p>Semuanya disebut pilar struktur kehidupan manusia.</p>
<p>Kita semua butuh untuk tahu apa yang tepat dan apa yang tidak tepat. Kita semua membutuhkan sesuatu seperti keamanan sosial, kenyamanan dan kebebasan.  Itulah kebutuhan dasar dan lazim dari semua manusia.</p>
<p>Bagaimana kita memenuhi kebutuhan itu?<br />
Bagaimana kita menggapainya?</p>
<p>Leluhur kita menasehati kita untuk memulainya dengan dharma. Seseorang harus tahu apa yang tepat, dan apa yang tidak tepat dilakukan. Dengan pemahaman semacam ini, seseorang harus memperoleh kemampuan yang dibutuhkan dan keahlian untuk menjalankan bidang tindakan yang dipilih.</p>
<p>&#8220;Dahulukan yang penting,&#8221; begitulah nasehat yang dipopulerkan Stephen Covey. Pertama, kita harus mendapatkan dharma. Tanpa kebijaksanaan untuk memilah apa yang tepat dan apa yang tak tepat, kita tak dapat berhasil dalam hidup. Dan untuk mengembangkan kebijaksananaan semacam itu, sangatlah penting bahwa kita memiliki sebuah pikiran yang tajam dan kemauan untuk belajar.</p>
<p>Kebijaksanaan ialah buah dari pembelajaran. Kita belajar dari buku. Kita juga belajar dari mengamati orang lain dan pengalaman hidup mereka. Yang terpenting, kita belajar dari pengalaman kita sendiri.</p>
<p>Dalam beberapa tahun pertama kehidupan kita, kita belajar ddengan mengamati orang lain. Itu yang kita lakukan saat kita masih anak-anak. Kita tak dapat membaca; kita tak bisa menulis; tapi kita bisa mengamati. Membaca dan menulis datang kemudian &#8211; yang pertama ialah observasi.</p>
<p>Anak-anak, yang kekurangan kemampuan pengamatan ini umumnya tak terlalu ingin tahu. Mereka tidak banyak bertanya. Kita mungkin menganggapnya sebagai anak yang bertipe pendiam. Kita mungkin merasa senang dengan hal tersebut, karena mereka tak menggangu kita seperti halnya tipe anak yang suka bertanya. Kendati demikian,  hal ini tak bagus. Anak-anak yang kurang observasi tak hanya tumbuh secara kurang bijaksana, tapi juga kurang dinamis.</p>
<p>Inilah alasan kenapa kita mempunyai banyak motivator di hari-hari belakangan ini. Sebagian dari kita yang kurang mengobservasi saat masa kanan-kanak tak bisa melakukan apa-apa tanpa mereka. Kita pelu dimotivasi, dan didorong untuk mencapai tujuan kita dalam kehidupan, untuk memenuhi dan meraih segalanya.</p>
<p>Amati anak-anak anda dan periksa seberapa kerap ia melakukan observasi. Anak yang observan bukanlah anak yang nakal dan bandel, tapi ia yang selalu bertanya, &#8220;apa ini? apa itu?&#8221;. Ini ialah pikiran yang bertanya yang membantu anak mekar menjadi manusia yang utuh. Tanpa pikitan yang bertanya, kita tetaplah separuh manusia.</p>
<p>Pikiran yang kritis bertanya, kendati demikian, tak dapat diperbudak. Memang ada komunitas, masyarakat dan sistem sosial yang tak suka dengan pikiran yang kritis. Mereka melecehkan intelegensia. Mereka mengharapkan pikiran yang tumpul yang dapat diarahkan da dikuasai. Penguasa di manapun, dan di bidang apapun menentang orang cerdas, karena mereka tak bisa diperbudak.</p>
<p>Purushaartha, seperti yang diwariskan leluhur kita, ialah bukan untuk para budak. Selain perbudakan, mereka tak punya pilihan lain dalam hidup. Perbudakan ialah satu-satunya makna dalam hidup mereka. Mereka tak dapat meraih dharma, artha, kama dan moksa. Mereka tak bebas melakukan apapun. Mereka telah diperbudak begitu lama sehingga mereka tak lagi merasa berharga, atau bahkan memahami, arti kebebasan dan kemerdekaan itu sendiri.</p>
<p>Sayangnya, perbudakan bukan tradisi yang usang dan mati. Pada zaman Musa perbudakan begitu kasat mata dan dan tumbuh subur seperti pada. Sekarang kita mempunyai penguasa genre baru. Di mana pemerintah tak lagi kejam, ekonomi, sosial, religius dan institusi yang sejenis lainnya menjadi para penguasa baru. Mereka dapat mengontrol pemerintah dari balik layar sehingga tetap terlihat</p>
<p>Untuk menggapai keempat purushaartha ialah untuk mematahkan rantai perbudakan, dan membebaskan pikiran kita. Tapi seperti yang telah saya katakan, jika kita terlalu lama dipebudak, kita bahkan bisa jadi tak memahami arti kebebasan. Kita mungkin malah menikmati perbudakan, dan merasa nyaman. Oleh sebab itu, dari waktu ke waktu, kita membutuhkan seorang Musa atau seorang Muhammad, seorang Buddha atau seorang Krishna, seorang Washington atau seorang Gandhi untuk menunjukan pada kita jalan keluar dari pebudakan.</p>
<p>Para mesias, nabi, manusia tuhan, avatar atau apapun sebutan anda bagi mereka  sebenarnya &#8220;orang bebas.&#8221; Mereka mengetahui arti kebebasan. Mereka ialah manusia dengan pikiran yang tajam dan intelegensia super. Mereka bisa merangkul keempat Purushartha dan menghayati kehidupan dengan gayanya sendiri. Dan mereka hendak berbagi dengan kita jenis kebebasan yang mereka nikmati. Mereka menghampiri kita untuk menunjukkan pada kita jalan keluar dari perbudakan.</p>
<p>Ya, itu ialah apa yang mereka tepatnya lakukan. Mereka &#8220;menunjukkan&#8221; pada kita jalan menuju kebebasan, kemandirian, kemerdekaan dan keadilan untuk semua. Kita masih harus menapaki jalan itu. Mereka tak bisa berjalan untuk kita.</p>
<p><em>Anand Krishna ialah seorang aktivis spiritual dan pengarang lebih dari 120 buku lebih, beberapa di antaranya dalam bahasa Inggris. Kunjungi websitenya, www.aumkar.org dan www.anandkrishna.org. Artikel ini ialah saripati dari bukunya yang berjudul sama. Untuk info lebih lanjut tentang buku dan aktivitas lainnya hubungi Ayana atau Debbie di 0361 7801595, 8477490.</em></p>
<p><em><strong>Penulis: Anand Krishna untuk Bali Times</strong><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aumkar.org/ind/?feed=rss2&amp;p=168</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waspadalah Bali!</title>
		<link>http://www.aumkar.org/ind/?p=154</link>
		<comments>http://www.aumkar.org/ind/?p=154#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2009 15:46:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Media Lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.aumkar.org/ind/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Bali pernah menjadi korban pemboman yang dilakukan oleh para penjahat berkedok agama, maka ia dapat memahami duka Jakarta, ketika hotel J.W.Marriott dan Ritz Carlton dibom pada tanggal 17 Juli yang lalu.

Kita semua berdoa, kita semua berharap bahwa kejadian serupa tak terulangi lagi. Tentunya doa dan harapan adalah kekuatan batin yang masih harus  ditunjang oleh kekuatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bali pernah menjadi korban pemboman yang dilakukan oleh para penjahat berkedok agama, maka ia dapat memahami duka Jakarta, ketika hotel J.W.Marriott dan Ritz Carlton dibom pada tanggal 17 Juli yang lalu.<br />
<span id="more-154"></span><br />
Kita semua berdoa, kita semua berharap bahwa kejadian serupa tak terulangi lagi. Tentunya doa dan harapan adalah kekuatan batin yang masih harus  ditunjang oleh kekuatan mental, emosional, intelektual, dan fisik. Berdoa dan berharap saja tidak cukup.</p>
<p>Apa yang terjadi di Jakarta, bisa saja terulang lagi, di Bali, atau di mana pun jua – bila kita terlena dan tidak waspada.<br />
Seperti yang diyakini oleh <strong>Jenderal (Purn.) A. M. Hendropriyono</strong> dalam mempertahankan disertasi Doktoralnya yang berjudul “Terorisme dalam kajian Filsafat Analitika” (Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 25-07-2009), <strong>terorisme dimulai dari pikiran manusia</strong>.</p>
<p>Keyakinan mantan ketua Badan Intelijen Nasional ini selaras dan seirama dengan keyakinan banyak peneliti, penulis dan pengamat terorisme. Namun, adalah pengalaman nyata di medan laga yang membuat Jenderal Hendropriyono beda. Ia seolah sedang menyampaikan “berita pandang mata”, yang tidak dapat diabaikan.</p>
<p>Perang melawan para teroris bisa saja dilakukan dengan gaya George Bush atau gaya lain yang sepenuhnya mengandalkan kekuatan militer. Namun, kekuatan militer saja tidak dapat menghentikan teroris-“<em>me</em>”. Para teroris bisa dijatuhi hukuman dan digantung atau ditembak, tetapi teroris-“<em>me</em>” tidak dapat dihentikan dengan cara itu.</p>
<p>Terorisme juga tidak dapat dihentikan dengan sekedar memperbaiki ekonomi dan kondisi sosial lainnya, sebagaimana diyakini banyak pejabat dan pemuka agama. Saya tidak mengatakan bila kedua hal tersebut tidak penting. Jelas penting. Perbaikan ekonomi dan kondisi sosial adalah tugas dan kewajiban negara, institusi-institusi keagamaan dan lain sebagainya.</p>
<p>Namun, perbaikan ekonomi dan kondisi sosial saja tidak dapat meniadakan terorisme. Karena, terorisme tidak tumbuh diatas lahan tersebut. Terorisme tumbuh diatas lahan pikiran: mental, emosional dan intelektual.</p>
<p>Para teroris, sebagaimana dikatakan oleh Jenderal Hendropriyono, bukanlah orang gila. Mereka bukanlah orang-orang berpendidikan rendah. Mereka membunuh, dan bahkan rela mati karena ideologi yang mereka yakini dan cintai.</p>
<p>Dan, ideologi itu tertanam dalam benak mereka, diatas lahan pikiran mereka. Itu pula yang membuat para pelaku aksi kejahatan di Bali masih bisa ketawa-ketiwi ketika dijatuhi hukuman. Mereka masih bisa bersorak dan berteriak histeris di tengah ruang sidang.</p>
<p>Ideologi yang tertanam di dalam benak mereka itu membuat mereka berseberangan dengan segala sesuatu yang mereka anggap bathil, jahat. Dan, bagi mereka “modernitas” adalah kebathilan. “Demokrasi” adalah kejahatan.</p>
<p>Celakanya, ideologi anti modernitas dan anti demokrasi ini tidak hanya tertanam di dalam benak para teroris, tetapi juga di dalam benak sebagian masyarakat yang lain. Masyarakat ini kemudian berkelompok, serta mengadakan hubungan dan kerjasama dengan kelompok-kelompok serupa di dalam maupun luar negeri.</p>
<p>Kelompok non-teroris ini bisa saja tidak terlibat dalam pemboman secara fisik, tetapi tetap menjadi radikal dan ekstremis dalam hal cara pandang dan perilaku sosial mereka.</p>
<p>Jenderal Hendropriyono secara khusus menyebut tiga kelompok asal Timur Tengah, yang terbukti merepotkan wilayah tersebut. Banyak negara-negara Arab malah melarang mereka. Anehnya, di Indonesia mereka malah bertumbuh, dan berkembang subur.</p>
<p>Salah satu kelompok diantaranya, sebagaimana diberitakan oleh <strong>Prof. Dr. Greg Barton</strong> dari Monash University Australia  (“Jemaah Islamiyah: Radical Islamism in Indonesia”, 2005) malah memperoleh dukungan dari berbagai elemen, termasuk seorang mantan menteri.</p>
<p>Kelompok-kelompok ini memang tidak secara langsung terlibat dalam aksi teror. Namun, adalah rahasia umum bila mereka yang bersahabat atau berafilliasi dengan kelompok-kelompok tersebut juga berlaga di lembaga-lembaga pendidikan dimana beberapa teroris pernah memperoleh “pendidikan”.</p>
<p>Saat ini pun masih ada politisi dan partai-partai politik yang walau enggan menyatakan kasmaran mereka secara terbuka, namun selalu berempati terhadap mereka.</p>
<p>Berarti, ideologi para teroris bukanlah monopoli mereka saja. Masih banyak elemen-elemen lain yang meyakini ideologi yang sama.</p>
<p>Tanggal 21 Juli yang lalu, salah satu kelompok mengadakan pertemuan akbar di Jakarta yang juga menghadirkan beberapa agamawan dari luar negeri. Secara jelas dan tegas, mereka menyampaikan seruan bagi perubahan dasar kita bernegara.</p>
<p>Di negeri lain, barangkali pertemuan seperti itu  dianggap subversi, makar, dan semua yang hadir di tangkap. Di negeri kita tidak. Kita baru belajar ber-demokrasi, sehingga anarki pun kadang disalahartikan sebagai demokrasi.</p>
<p>Kita sedang menghadapi orang-orang, saudara-saudara kita sendiri, yang sedang mengalami krisis identitas. Dalam pertemuan yang saya sebut diatas, bahasa pengantarnya pun Arab, dan bukan lagi bahasa Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara ingin mereka ganti dengan syariah agama, yang tentunya sesuai dengan pemahaman mereka. Kepala negara bukan lagi seorang Presiden, tetapi seorang khalifa.</p>
<p>Ideologi berbasis salah satu agama, dan bukan nilai-nilai universal keagamaan sebagaimana telah terakomodir dalam butir-butir Pancasila, jelas dapat memecah belah bangsa kita yang terdiri dari sekian banyak kelompok agama.</p>
<p>Solusi yang ditawarkan oleh Jenderal Hendropriyono, yaitu revitalisasi Pancasila, rasanya merupakan satu-satunya solusi. Tidak ada solusi lain. Terorisme bermula dari pikiran, maka harus berakhir dalam pikiran juga. Mesti dihadapi dengan pikiran juga. Sudah saatnya bangsa ini tidak sekedar meyakini Pancasila sebagai ideologi negara, tetapi berpikir Pancasila, berperasaan Pancasila, dan berperilaku Pancasila.</p>
<p>Bali mesti waspada terhadap ancaman ideologi-ideologi anti Pancasila. Rakyat Bali mesti bersikap lebih arif dan mendukung partai-partai yang komitmennya terhadap Pancasila jelas dan tegas, dan tidak berurusan dengan elemen-elemen anti-Pancasila di pusat.</p>
<p>Bali mesti waspada terhadap partai-partai penebar pesona yang lain di Bali dan lain pula di pusat. Mereka kurang percaya diri. Bali, jangan berpikir bila apa yang terjadi di pusat tidak akan mempengaruhimu. Waspadalah!</p>
<p><i>(Radar Bali, Senin 27 Juli 2009)</i></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.aumkar.org/ind/?feed=rss2&amp;p=154</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
